Makalah tentang Remaja dan Permasalahannya

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial (TP-KJM, 2002).Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi. Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu:
Follicle-Stimulating Hormone (FSH); danLuteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan,kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar- mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah- masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap “pemberontakan” remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik.Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam.
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”.Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu.Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja. Dari beberapa dimensi perubahan yang terjadi pada remaja seperti yang telah dijelaskan diatas maka terdapat kemungkinan – kemungkinan perilaku yang bisa terjadi pada masa ini. Diantaranya adalah perilaku yang mengundang resiko dan berdampak negative pada remaja. Perilaku yang mengundang resiko pada masa remaja misalnya seperti penggunaan alcohol, tembakau dan zat lainnya; aktivitas social yang berganti – ganti pasangan dan perilaku menentang bahaya seperti balapan, selancar udara, dan layang gantung (Kaplan dan Sadock, 1997).Alasan perilaku yang mengundang resiko adalah bermacam – macam dan berhubungan dengan dinamika fobia balik ( conterphobic dynamic ), rasa takut dianggap tidak cakap, perlu untuk menegaskan identitas maskulin dan dinamika kelompok seperti tekanan teman sebaya.Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangattidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi siperokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokoksendiri maupun orang – orang disekitarnya. Berbagai kandungan zat yang terdapatdi dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh penghisapnya.Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang merokok adalah untukmendapat pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004). Hal ini sejalan dengan kegiatanmerokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain,terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertarik kepadakelompok sebayanyaatau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya.Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitun memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294).Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson,1999).Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).
Kita telah ketahui bahwa kebebasan bergaul remaja sangatlah diperlukan agar mereka tidak “kuper” dan “jomblo” yang biasanya jadi anak mama. “Banyak teman maka banyak pengetahuan”. Namun tidak semua teman kita sejalan dengan apa yang kita inginkan. Mungkin mereka suka hura-hura, suka dengan yang berbau pornografi, dan tentu saja ada yang bersikap terpuji. benar agar kita tidak terjerumus ke pergaulan bebas yang menyesatkan.Masa remaja merupakan suatu masa yang menjadi bagian dari kehidupan manusia yang di dalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan diri remaja itu sendiri. Masa remaja dapat dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksipun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan. Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut.Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masa awal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah masalah kehamilan yang terjadi pada remaja diluar pernikahan. Apalagi apabila Kehamilan tersebut terjadi pada usia sekolah. Siswi yang mengalami kehamilan biasanya mendapatkan respon dari dua pihak. Pertama yaitu dari pihak sekolah, biasanya jika terjadi kehamilan pada siswi, maka yang sampai saat ini terjadi adalah sekolah meresponya dengan sangat buruk dan berujung dengan dikeluarkannya siswi tersebut dari sekolah. Kedua yaitu dari lingkungan di mana siswi tersebut tinggal, lingkungan akan cenderung mencemooh dan mengucilkan siswi tersebut. Hal tersebut terjadi jika karena masih kuatnya nilai norma kehidupan masyarakat kita.
Karena masalah kehamilan remaja tidak hanya membebani remaja sebagai individu dan bayi mereka namun juga mempengaruhi secara luas pada seluruh strata di masyarakat dan juga membebani sumber-sumber kesejahteraan. Namun, alasan-alasannya tidak sepenuhnya dimengerti. Beberapa sebab kehamilan termasuk rendahnya pengetahuan tentang keluarga berencana, perbedaan budaya yang menempatkan harga diri remaja di lingkungannya, perasaan remaja akanketidakamanan atau impulsifisitas, ketergantungan kebutuhan, dan keinginan yang sangat untuk mendapatkan kebebasan.Selain masalah kehamilan pada remaja masalah yang juga sangat menggelisahkan berbagai kalangan dan juga banyak terjadi pada masa remaja adalah banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDSDilihat dari jumlah pengidap dan peningkatan jumlahnya dari waktu ke waktu, maka dewasa ini HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) sudah dapat dianggap sebagai ancaman hidup bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan Departemen Kesehatan sampai Juni 2003 jumlah pengidap HIV/AIDS atau ODHA (Orang Yang Hidup Dengan HIV/AIDS) di Indonesia adalah 3.647 orang terdiri dari pengidap HIV2.559 dan penderita AIDS 1.088 orang. Dari jumlah tersebut, kelompok usia 15 -19 berjumlah 151 orang (4,14%); 19-24 berjumlah 930 orang (25,50%). Ini berartibahwa jumlah terbanyak penderita HIV/AIDS adalah remaja dan orang muda.Dari data tersebut, dilaporkan yang sudah meninggal karena AIDS secara umumadalah 394 orang (Subdit PMS & AIDS, Ditjen PPM & PL, Depkes R.I.).Diperkirakan setiap hari ada 8.219 orang di dunia yang meninggal karena AIDS,sedangkan di kawasan Asia Pacific mencapai angka1.192orang.Data dan fakta tersebut belum mencerminkan keadaan yang sebenarnya,melainkan hanya merupakan “puncak gunung es”, artinya, yang kelihatan ataudilaporkan hanya sedikit, sementara yang tidak kelihatan atau tidak dilaporkanjumlahnya berkali-kali lipat. Para ahli memperkirakan bahwa jumlah sebenarnyaPenularan virus HIV ternyata menyebar sangat cepat di kalangan remajadan kaum muda. Penularan HIV di Indonesia terutama terjadi melalui hubunganseksual yang tidak aman, yaitu sebanyak 2.112(58%) kasus. Dari beberapapenelitian terungkap bahwa semakin lama semakin banyak remaja di bawah usia18 tahun yang sudah melakukan hubungan seks. Cara penularan lainnya adalahmelalui jarum suntik (pemakaian jarum suntik secara bergantian pada pemakainarkoba, yaitu sebesar 815 (22,3%) kasus dan melalui transfusi darah 4 (0,10%)kasus). FKUl-RSCM melaporkan bahwa lebih dari 75% kasus infeksi HIV dikalangan remaja terjadi di kalangan pengguna narkotika. Jumlah ini merupakankenaikan menyolok dibanding beberapa tahun yang lalu.Beberapa penyebab rentannya remaja terhadap HIV/AIDS adalah1. Kurangnya informasi yang benar mengenai perilaku seks yang aman dan upayapencegahan yang bisa dilakukan oleh remaja dan kaum muda. Kurangnyainformasi ini disebabkan adanya nilai-nilai agama, budaya, moralitas dan lain-lain, sehingga remaja seringkali tidak memperoleh informasi maupunpelayanan kesehatan reproduksi yang sesungguhnya dapat membantu remajaterlindung dari berbagai resiko, termasuk penularan HIV/AIDS.2. Perubahan fisik dan emosional pada remaja yang mempengaruhi doronganseksual. Kondisi ini mendorong remaja untuk mencari tahu dan mencoba-cobasesuatu yang baru, termasuk melakukan hubungan seks dan penggunaan3. Adanya informasi yang menyuguhkan kenikmatan hidup yang diperolehmelalui seks, alkohol, narkoba, dan sebagainya yang disampaikan melaluiberbagai media cetak atau elektronik.4. Adanya tekanan dari teman sebaya untuk melakukan hubungan seks, misalnyauntuk membuktikan bahwa mereka adalah jantan.5. Resiko HIV/AIDS sukar dimengerti oleh remaja, karena HIV/AIDSmempunyai periode inkubasi yang panjang, gejala awalnya tidak segera6. Informasi mengenai penularan dan pencegahan HIV/AIDS rupanya juga belumcukup menyebar di kalangan remaja. Banyak remaja masih mempunyaipandangan yang salah mengenai HIV/AIDS.7. Remaja pada umumnya kurang mempunyai akses ke tempat pelayanankesehatan reproduksi dibanding orang dewasa. Hal tersebut dibuktikan denganbanyaknya remaja yang terkena HIV/AIDS tidak menyadari bahwa merekaterinfeksi, kemudian menyebar ke remaja lain, sehingga sulit dikontrol.HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Merupakanvirus penyebab AIDS yang melemahka sistem kekebalan tubuh.AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yangmerupakan kumpulan dari beberapa gejala akibat menurunnya sistem kekebalantubuh yang disebabkan oleh HIV sehingga orang yang telah terinfeksi HIV mudahdiserang berbagai penyakit yang bisa mengancam hidupnyaHIV menular melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian, jarumsuntik bekas pakai, jarum suntik yang tidak steril, melakukan hubungan seksberganti – ganti pasangan, atau proses penularan dari ibu ke bayi melalui proses :hamil, melahirkan, dan menyusui. Setelah masuk dan menginfeksi manusiaselama 2 minggu sampai 6 bulan ( 3 bulan pada 95% kasus) merupakan masaantara masuknya HIV ke dalam tubuh sampai terbentuknya antibody (penangkalpenyakit) terhadap HIV atau disebut juga HIV Positif. Pada fase ini HIV sudahdapat ditularkan kepada orang lain walaupun hasil tes masih negatif. Fase inidisebut fase jendela. Setelah melalaui fase jendela. Selama 3 – 10 tahun setelahterinfeksi HIV, Seseorang yang telah mengidap HIV Positif tidakakanmenampakkan gejala, tampak sehat, dan dapat beraktifitas seperti biasa. Barusetelah 1- 2 tahun kemudian mulai timbul infeksi opportunistik ( penyakit lainyang muncul karena sistem kekebalan tubuh menurun). Obat ARV ( Anti RetroViral ) yang diminum pada fase ini dapat menekan pertumbuhan HIV. Akan tetapiobat ini tidak dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh.1. Gigitan nyamuk atau serangga lain2. Keringat, Sentuhan, Pelukan, ataupun Ciuman5. Berbagi makanan atau menggunakan alat makan bersamaStatus HIV hanya dapat diketahui melalui Konseling dan Testing HIV Sukarela• Testing HIV merupakan pengambilan darah dan pemeriksaanlaboratorium disertai konseling pre dan pasca testing HIV• Konseling dan Testing HIV Sukarela dilakukan dengan prinsip tanpapaksaan, rahasia, tidak membeda-bedakan serta terjamin kualitasnya• Manfaat Konseling dan Testing HIV Sukarela :- Mendapat informasi, pelayanan, dan perawatan sesuai kebutuhan- Dukungan untuk perubahan perilaku yang lebih sehat dan aman dariSudah adakah obat untuk HIV? Obat ARV (Anti Retro Viral) dapat mengendalikan pertumbuhan jumlahHIV dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk memperpanjang usia hidupODHA ( Orang dengan HIV dan AIDS)Obat ARV tidak dapat menyembuhkan Odha karena tidak bisamenghilangkan HIV dalam tubuh Odha harus minum obat ARV secara rutin pada jam tertentu setiap hari danseumur hidup Sejak tahun 2007 terdapat 75 rumah sakit rujukan bagi Odha dis eluruhIndonesia yang menyediakan obat ARV4. REMAJA DAN PENYALAHGUNAAN MINUMAN KERAS DANBerdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN),jumlah kasuspenyalahgunaan Narkoba di Indonesia dari tahun 1998 – 2003 adalah 20.301orang, di mana 70% diantaranya berusia antara 15 -19 tahunDefinisi dan Macam – Macam NarkobaNarkoba (singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktifberbahaya lainnya) adalah bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia,baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran,suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkanketergantungan (adiksi ) fisik dan psikologis.Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukantanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunanatau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkanketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun 1997).Yang termasuk jenis Narkotika adalah :• Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko),opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.• Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, sertacampuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebutPsikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukannarkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan sarafpusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Undang-Undang No. 5/1997). Zat yang termasuk psikotropika antara lain:• Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandarax, Amfetamine,Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi,Shabu-shabu, LSD (Lycergic Alis Diethylamide), dsb.Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetismaupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yangdapat mengganggu sistim syaraf pusat, seperti: Alkohol.Alkohol adalah zat penekan susuan syaraf pusat meskipun dalam jumlah kecilmungkin mempunyai efek stimulasi ringanBahan psikoaktif yang terdapat dalam alkohol adalah etil alkohol yang diperolehdari proses fermentasi madu, gula sari buah atau umbi umbian. Nama yangpopuler : minuman keras (miras), kamput, tomi (topi miring), cap tikus , balo dll.Minuman beralkohol mempunyai kadar yang berbeda-beda, misalnya bir dan sodaalkohol ( 1-7% alkohol), anggur (10-15% alkohol) dan minuman keras yang biasadisebut dengan spirit (35 – 55% alkohol). Konsentrasi alkohol dalam darahdicapai dalam 30 – 90 menitsetelah diminum.Dari beberapa penelitian alkohol dapat menyebabkan : Kecelakaan lalu lintas Luka bakar Kasus penganiayaan anak Bunuh diri Kecelakaan kerjaDi Indonesia penjualan minuman beralkohol di batasi dan yang boleh membeliadalah mereka yang telah berumur 21 tahunBeberapa etnik di Indonesia menggunakan minuman beralkohol pada acaratertentu dalam jumlah yang sedikit. Mereka juga memproduksi minumanberalkohol dengan nama yang bermacam ragam misalnya : tuak, minuman capPengaruh Terhadap Tubuh (Fisik dan Mental)Pengaruh alkohol terhadap tubuh bervariasi, tergantung pada beberapa faktoryaitu : Jenis dan jumlah alkohol yang dikonsumsi Usia, berat badan, dan jenis kelamin Makanan yang ada di dalam lambung Pengalaman seseorang minum – minuman beralkohol Situasi dimana orang minum – minuman beralkoholWalaupun pengaruh terhadap individu berbeda – beda, terdapat hubungan antarakonsentrasi alkohol di dalam darah (Blood Alkohol Concentration – BAC) danefeknya. Euphoria ringan dan stimulasi terhadap perilaku lebih aktif seiringdengan meningkatnya konsentrasi alkohol di dalam darah. Sayangnya orangbanyak beranggapan bahwa penampilan mereka menjadi lebih baik dan merekaGejala intoksikasi alkohol yang paling umum adalah ”mabuk”, ”teler” sehinggadapat menyebabkan cedera dan kematian. Penurunan kesadaran seperti komadapat terjadi pada keracunan alkohol yang berat demikian juga henti nafas danSelain kematian, efek jangka pendek alkohol dapat menyebabkan hilangnyproduktifitas kerja (misalnya ”teler, kecelakaan akibat ngebut). Sebagai tambahan,alkohol dapat menyebabkan perilaku kriminal. 70 % dari narapidanamenggunakan alkohol sebelum melakukan tindak kekerasan dan lebih dari 40 %kekerasan dalam rumah tangga dipengaruhi oleh alkoholMengkonsumsi alkohol berlebiha dalam jangka panjang dapat menyebabkan : Kerusakan jantung Tekanan Darah TinggiStroke Kerusakan hati Kanker saluran pencernaan Gangguan pencernaan lainnya (misalnya tukak lambung) Impotensi dan berkurangnya kesuburan Meningkatnya resiko terkena kanker payudara Kesulitan tidur Kerusakan otak dengan perubahan kepribadian dan suasana perasaan Sulit dalam mengingat dan berkonsentrasiSebagai tambahan terhadap masalah kesehatan, alkohol juga berdampak terhadaphubungan sesama, finansial, pekerjaan, dan juga menimbulkan masalah hukumPengaruh alkohol pada perilakuKonsentrasi alkohol dalam Pengaruh yang ditimbulkanPerasaan Sampai dengan 0.50 g% • Banyak bicaraRisiko 0.05 – 0.08 g % • Banyak bicararendah • Bertindak dan lebih merasaRisiko 0.08 – 0.15 g % • Bicara cadelsedang • Berkurangnya keseimbanganRisiko tinggi 0.15 – 0.30 g % • Tidak dapat berjalan tanpaPengguna alkohol yang terus menerus dapat mengalami toleransi danketergantungan. Toleransi adalah peningkatan penggunaan alkohol dari jumlahyang kecil menjadi lebih besar untuk mendapatkan pengaruh yang sama.Sedangkan ketergantungan adalah keadaan dimana alkohol menjadi bagian yangpenting dalam kehidupannya, banyak waktu yang terbuang karena memikirkan(cara mendapatkan, mengkonsumsi dan bagaimana cara berhenti). Penggunaalkohol akan mengalami kesulitan bagaimana cara menghentikan ataumengendalikan jumlah alkohol yang dikonsumsi.Seseorang yang mengalami ketergantungan secara fisik terhadap alkohol akanmengalami gejala putus alkohol apabila menghentikan atau mengurangipenggunaannya. Gejala biasanya terjadi mulai 6 – 24 jam setelah minum yangterakhir. Gejala ini dapat berlangsung selama 5 hari, diantaranya adalah :• Sulit tidur (berlangsung beberapa minggu)Gejala putus alkohol sangat berbahaya. Orang yang minum lebih dari 8 standarminum perhari dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter (sebelum memutuskanuntuk berhenti minum) untuk mendapatkan terapi medis guna mencegahSedangkan berdasarkan efeknya, narkoba bisa dibedakan menjadi tiga:1. Depresan, yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangiaktifitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisamembuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisamengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain opioda, danberbagai turunannya seperti morphin dan heroin. Contoh yang populer2. Stimulan, merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan sertakesadaran. Jenis stimulan: Kafein, Kokain, Amphetamin. Contoh yangsekarang sering dipakai adalah Shabu-shabu dan Ekstasi.3. Halusinogen, efek utamanya adalah mengubah daya persepsi ataumengakibatkan halusinasi. Halusinogen kebanyakan berasal dari tanamanseperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain ituada jugayang diramu di laboratorium seperti LSD. Yang paling banyakdipakai adalah marijuana atau ganja.Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatandan penelitian. Tetapi karena berbagai alasan – mulai dari keinginan untuk dicoba– coba, ikut trend/gaya, lambing status social, ingin melupakan persoalan dll –maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berlanjutakan menyebabkan ketergantungan atau dependensi yang disebut juga denganTingkatan penyalahgunaan biasanya sebagai berikut: 1) coba-coba; 2)senang-senang; 3) menggunakan pada saat atau keadaan tertentu; 4)penyalahgunaan; 5) ketergantungan.Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yangtelah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yangakan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakanpada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru,Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung padajenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisipemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik,psikis maupun sosial seseorang.1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang,halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti:infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi,4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsipernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuhmeningkat, pengecilan hati dan sulit tidur6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin,seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron,testosteron), serta gangguan fungsi seksual7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lainperubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarumsuntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit sepertihepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosisyaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya.Over dosis bisa menyebabkan kematian1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suramDampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisikakan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat(tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupakeinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejata fisikdan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untukmembohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dll.Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anakdan masa dewasa. Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remajaakan membentuk perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa. Karena itulahbila masa anak-anak dan remaja rusak karena narkoba, maka suram atau bahkanPada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trenddan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun semuakecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remajauntuk terdorong menyalahgunakan narkoba. Data menunjukkan bahwa jumlahpengguna narkoba yang paling banyak adalah kelompok usia remaja.Masalah menjadi lebih gawat lagi bila karena penggunaan narkoba, pararemaja tertular dan menularkan HIV/AIDS di kalangan remaja. Hal ini telahterbukti dari pemakaian narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Bangsaini akan kehilangan remaja yang sangat banyak akibat penyalahgunaan narkobadan merebaknya HIV/AIDS. Kehilangan remaja sama dengan kehilangan sumber5. MENANGANI MASALAH YANG TERJADI PADA REMAJASelain ketiga masalah psikososial yang sering terjadi pada remaja sepertiyang disebutkan dan dibahas diatas terdapat pula masalah masalah lain padaremaja seperti tawuran, kenakalan remaja, kecemasan, menarik diri, kesulitanSemua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihakmengingat remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. Ditangan remaja lahmasa depan bangsa ini digantungkan.Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mencegahsemakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu antara lain :• Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita• Membekali anak dengan dasar moral dan agama• Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua – anak• Menjalin kerjasama yang baik dengan guru• Menjai tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam hal• Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak• Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman• Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan• Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga• Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP• Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas• Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain• Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek• Mewaspadai adanya provokator• Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah• Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembangsecara sehat dalah hal fisik, mental, spiritual dan sosial• Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPZAPeran Pemerintah dan masyarakat :• Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti• Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas anak• Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas• Menanggulangi NAPZA, dengan menerapkan peraturan dan hukumnya• Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan• Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)• Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)• Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas6. REMAJA DAN PERILAKU HIDUP SEHATRemaja yang bersikap hidup sehat adalah remaja:2. Memahami faktor penghambat maupun pendukung perkembangan4. Terus menerus memperbaiki diriDengan demikian remaja dapat diharapkan menjaga remaja yang handal dansehat. Remaja harus mengetahui dirinya memiliki kekhawatiran dan harapan,dengan kata lain remaja harus mengerti dirinya sendiri.Faktor yang berkembang pada setiap remaja antara lain fisik, intelektual,emosional, spiritual. Kecepatan perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:Faktor fisik berkembang secara tepat sedangkan faktor lainnya berkembangtidak sama besar. Perkembangan yang tidak seimbang inilah yang menimbulkankejanggalan dan berpengaruh terhadap perilaku remaja.Bagaimana seseorang remaja melihat dirinya sendiri, orang lain sertahubungannya dengan orang lain termasuk orang tua dan pembina? Kadang-kadang ia ingin dianggap sebagai anak-anak, orang dewasa, orang lain dianggapHubungan dirinya dengan orang lain dianggap bersifat:1. Otoriter ——- demokratisSemua tersebut di atas dalam keadaan “dalam perjalanan menuju” Sehingga dapatdilihat segalanya masih dalam proses dan tidak berada dalam kutub atau masaanak-anak ataupun kutub atau masa dewasa.”Dalam perjalanan menuju” ini yang menonjol adalah:2. Emosi yang cepat tersinggung3. Sering mengambil keputusan tanpa berfikir panjang4. Pertimbangan agama, falsafah, ataupun tatakrama hanya kadang-kadangDan “Dalam perjalanan menuju” yang paling penting diketahui oleh remajaadalahbagaimana remaja dapat berproses :2. Menuju emosi kelakian ataupun kewanitaan yang utuh3. Menuju cara berfikir dewasa4. Menuju mempercayai hal-hal yang agamais, bersifat falsafah dan bersifatAtkinson (1999). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat (2001). Buku Pedoman Umum TimPembina, Tim Pengarah & Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa. Direproduksi olehProyek Peningkatan Kesehatan Khusus APBD 2002.Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo &Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga.Kozier, B (1991). Fundamental of Nursing : Concept, Process, and Practice.Fourth Edition. California : Addison-Wesley Publishing Company.Mappiare, A. (1992). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.Stuart & Sundeen (1998). Principle and Practice of Psychiatric Nursing. 6 th. Ed.Azwar, S. 2002. Sikap Manusia, Teori Dan Pengukurannya. Yogyakarta. PustakaKaplan dan Sadock.1997. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku PsikiatriKlinis (Edisi ke 7, Jilid 1). Jakarta. Binarupa Aksara.BKKBN. 2001. Remaja Mengenai Dirinya. Jakarta. BKKBN
Oleh : Efri Widianti, S.Kep., Ners

Leave a Reply